“Orang benar akan
bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan
bermegah” (Mazmur 64:11).
Kitab Suci ini akan secara
harfiah digenapi. Segala sesuatu yang mudah goyah akan tergoyahkan, agar segala
sesuatu yang tak tergoyahkan tetap tinggal. Saya terkagum-kagum saat
merenungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dari umat Allah. Tuhan akan
memiliki satu umat yang murni dan suci— satu umat yang akan lulus ujian. Semua
orang percaya sekarang perlu menyelidik hati sebagaimana dengan lilin yang
dinyalakan....
Di hadapan kita dihamparkan
kemungkinan indah menjadi seperti Kristus— penurutan kepada semua prinsip hukum
Allah. Tetapi tentang diri kita sendiri kita sama sekali tak berdaya untuk
mencapai kondisi ini. Semua yang baik di dalam diri kita datang kepada kita
melalui Kristus. Kesucian yang menurut Firman Allah harus kita miliki sebelum kita
diselamatkan, adalah hasil dari pekerjaan kasih karunia Ilahi saat kita bersujud
dalam penyerahan kepada disiplin dan pengaruh kendali Roh kebenaran....
Pekerjaan perubahan dari
tidak suci menjadi suci merupakan satu pekerjaan yang berkesinambungan. Hari
demi hari Allah bekerja demi penyucian kita, dan kita harus bekerja sama dengan
Dia dengan mengedepankan usaha-usaha tekun menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang
benar.... Secara terus-menerus kita harus menambahkan kasih karunia kepada kasih
karunia, dan setelah melakukan ini, Allah akan melakukan bagi kita rencana
pelipatgandaan. Ia selalu siap mendengar dan menjawab doa dari hati yang sedih,
dan kasih dan kedamaian bertambah banyak bagi orang-orang-Nya yang setia.
Dengan senang Ia menganugerahkan bagi mereka berkat-berkat yang mereka perlukan
dalam perjuangan mereka melawan kejahatan yang menyerang mereka. Mereka yang mendengarkan
nasihat Firman-Nya tidak akan menginginkan hal lain....
Allah lebih dari sekadar
menggenapi pengharapan tertinggi dari mereka yang menaruh percaya pada-Nya. Ia
ingin kita mengingat bahwa bila kita rendah hati dan menyesal, kita berdiri di
mana Ia dapat dan akan memperlihatkan Diri-Nya kepada kita. Ia dihormati bila
kita mengasihi Dia dan memberi kesaksian pada ketulusan kasih kita dengan
memelihara hukum-Nya. Ia dihormati ketika kita mengasingkan hari ketujuh
sebagai hari yang suci. Kepada mereka yang melakukan ini, Sabat merupakan satu
tanda, “agar mereka boleh mengetahui,” Allah menyatakan, “bahwa Akulah Allah
yang menyucikan mereka. ” Penyucian berarti persekutuan dengan Allah yang
dilakukan karena kebiasaan. Tidak ada yang begitu besar dan kuat sebagaimana
kasih Allah bagi mereka yang adalah anak-anak-Nya. Review and Herald, 15 Maret 1906.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar