Minggu, 09 September 2012

10 September - KEMENANGAN ATAS PENCOBAAN



“Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9).

Ketika pencobaan datang, ketika bujuk rayu wanita diberikan untuk menarik dia ke dalam perbuatan salah, Yusuf menjaga integritasnya. Perkataan manis dan permohonan penuh akal bulus tidak menyebabkan dia seujung rambut pun menyimpang dari yang benar. Semua yang diucapkan tidak didengarnya. Hukum Tuhan menjaga jiwanya. Ia berkata kepada wanita penggoda itu, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

Si wanita ternyata gagal menuntun Yusuf masuk ke dalam dosa. Setan dikalahkan. Dan kemudian Yusuf mendapati bahwa bibir yang dapat memuji juga bisa berbohong. Istri Potifar itu membalas penolakannya dengan membuat tuduhan palsu terhadap dia. Karena Yusuf tidak mau berbuat dosa kepada orang yang telah memberi kepercayaan kepadanya, kehormatannya dicabut, tapi melalui kasih karunia Allah, ia menerimanya dengan adil dan yang telah membawa dia berhubungan dengan tokoh-tokoh besar di Mesir.

Penghinaan yang tiba-tiba dari kedudukan hamba yang dipercaya dan dihormati menjadi kriminal yang dipenjarakan tentunya membuat dia jatuh kalau saja tangan Tuhan tidak menopang dia. Tetapi keyakinannya kepada Allah tak tergoyahkan. Kasih kepada Allah menjaga jiwanya dalam kedamaian yang sempurna. Surga sangatlah dekat dengan perbukitan Mesir yang subur, karena di sana ada seorang pemuda yang memelihara jalan Tuhan. Kehadiran Yesus ada bersama dia di dalam penjara, mengajar, menguatkan, dan memelihara pikiran dan jiwanya, agar terang dari sorga dapat memancar.

Yusuf telah dicobai oleh sifat pilih kasih orangtua; oleh permusuhan, kecemburuan dan kebencian saudara-saudaranya; oleh harga diri dan keyakinan dari tuannya; dan oleh kedudukan tinggi yang terhormat. Ia dicobai oleh bujuk rayu kecantikan wanita, oleh pujian bibir wanita itu dan cintanya yang terlarang. Namun kesetiaan Yusuf tidak membuatnya mau mendengar suara si penggoda. Hukum Tuhan adalah kesukaannya, dan ia tidak mau berpaling dari ajaran-ajarannya.... Sekalipun dalam penjara, Yusuf diberi kesempatan untuk memberikan terang kepada rekan sepenjaranya. Penjara ini baginya merupakan sekolah pendidikan....

Kekuasaan akan diberikan ke tangan Yusuf, dan melalui dia Allah akan dinyatakan sebagai penguasa langit dan bumi. Tetapi ia akan dilatih dalam kesengsaraan—sekolah yang Allah rancang agar anak-anak-Nya mau belajar. Youth’s Instructor, 11 Maret 1897.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar