Sabtu, 08 September 2012

9 September - YUSUF: SAKSI TUHAN YANG TAK TERGOYAHKAN


“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu” (Kejadian 39:2).

Sudah menjadi rencana Allah agar melalui Yusuf, agama Alkitab diperkenalkan di tengah orang Mesir. Saksi setia ini harus mewakili Kristus di istana raja-raja. Melalui mimpi-mimpi Allah berkomunikasi dengan Yusuf di masa mudanya, memberikan dia isyarat tentang kedudukan tinggi yang akan dipegangnya kelak. Saudara-saudara Yusuf menjual dia sebagai budak untuk mencegah terwujudnya mimpi itu, tetapi perbuatan kejam mereka justru membuat ramalan mimpi itu menjadi kenyataan.

Mereka yang berusaha memutarbalikkan maksud Allah dan menentang kehendak-Nya untuk sementara waktu kelihatan berhasil; tetapi Allah bekerja untuk menggenapi maksud-Nya sendiri, dan Ia akan memperlihatkan siapa penguasa langit dan bumi.

Yusuf menganggap dirinya dijual ke Mesir sebagai bencana besar yang dapat menghancurkan dia, tetapi ia melihat perlunya percaya kepada Allah sebagaimana belum pernah dilakukannya ketika dilindungi oleh kasih ayahnya. Yusuf membawa Allah bersamanya ke Mesir, dan fakta itu terlihat oleh sikapnya yang ceria di tengah kesedihannya....Sudah menjadi maksud Allah bahwa mereka yang mengasihi dan menghormati nama-Nya akan dihormati juga, dan bahwa kemuliaan yang diberikan kepada Allah melalui mereka akan dipantulkan ke atas diri mereka sendiri.

Karakter Yusuf tidak berubah ketika ia ditinggikan ke satu kedudukan yang dipercaya. Ia ditempatkan di mana kebajikannya akan bersinar dalam terang yang menonjol untuk pekerjaan-pekerjaan baik. Berkat Allah ada padanya di rumah dan di ladang. Semua tanggung jawab di rumah Potifar dipercayakan padanya. Dan dalam semua ini ia memperlihatkan integritas kesetiaan, karena ia mengasihi dan takut akan Allah.

Ditempatkan sebagaimana ia dulu dalam masyarakat orang terpelajar, ia memperoleh pengetahuan tentang ilmu pengetahuan dan bahasa. Inilah sekolah pelatihannya, bahwa di masa mudanya ia bisa memenuhi syarat menjadi perdana menteri Mesir. Ia mempelajari hal-hal yang diperlukan bagi kedudukan tingginya kelak. Ia mengumpulkan semua hikmat dan pengetahuan yang tersedia baginya, dan ini tidak sedikit. Namun hatinya setia kepada Allah. Pengetahuan manusia dan hikmat Ilahi dipadukan, agar ia menjadi sinar yang menerangi, memantulkan cahaya terang Surya Kebenaran di tengah kegelapan penyembahan berhala. Youth’s Instructor, 11 Maret 1897.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar