Kamis, 27 September 2012

29 September - BELAJAR DARI PENGAMAN PETRUS



“Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (Markus 14:31).

Alasan mengapa banyak orang yang mengaku murid Yesus, jatuh ke dalam pencobaan yang menyedihkan, adalah bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang diri mereka sendiri. Di sinilah letak kelemahan Petrus yang dengan mudah digoncang musuh....

Perhatikan jalan yang dilalui Petrus. Kejatuhannya tidak seketika itu juga, tetapi perlahan-lahan. Langkah demi langkah dijalani sampai si malang yang berdosa itu menyangkal Tuhannya dengan kutukan dan sumpah....

Kokok ayam jantan mengingatkan Petrus dengan perkataan Kristus, dan terkejut serta kaget, ia berbalik dan memandang Tuhannya. Seketika itu juga Kristus memandang Petrus, dan melihat pandangan sedih itu, di mana belas kasih dan sayang kepadanya terpadu, Petrus mengerti dirinya sendiri. Dengan jelas perkataannya yang percaya diri terlintas dalam benaknya, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” “Aku bersedia pergi bersama-Mu, baik ke dalam penjara, dan kepada kematian. ” Namun ia telah menyangkal Tuhannya dengan kutukan dan sumpah!

Tetapi Petrus tidak dibiarkan dalam keadaan tak berdaya. Pandangan yang Kristus berikan kepadanya membawa sinar pengharapan kepada murid yang bersalah itu. Di sana ia membaca kata-kata, “Petrus, Aku menyesal untukmu. Karena kau telah menyesal dan bertobat, Aku mengampunimu.” Sementara jiwa Petrus sedang mengalami penyesalan yang demikian dalam, melalui pergumulan yang sedemikian hebat dengan agen-agen Setan, ia mengingat perkataan Kristus, “Aku telah berdoa untukmu,” dan kata-kata itu merupakan jaminan baginya.... Dalam kejatuhan Petrus, di hadapan kita terletak masalah individu kita sendiri. Sama seperti yang Petrus lakukan, banyak yang mengaku mengikuti perintah Allah justru mencemarkan dan mencela Sahabat terbaik mereka—Dia yang paling dapat menyelamatkan mereka. Tetapi Tuhan mau menerima kembali mereka yang telah mencemarkan Dia oleh perbuatannya yang tidak menuruti hukum.

Petrus berdosa terhadap terang dan pengetahuan dan terhadap keistimewaan besar dan mulia. Kepercayaan dirilah yang telah menyebabkan dia gagal, dan kejahatan yang sama inilah yang sekarang bekerja dalam hati manusia. Mungkin maksud kita untuk menjadi benar dan melakukan yang benar, tetapi kita sudah tentu akan salah kalau tidak terus-menerus belajar di sekolah Kristus. Satu-satunya keselamatan kita adalah berjalan dengan rendah hati bersama Allah. Youth’s Instructor, 15 Des. 1898.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar