Kamis, 16 Agustus 2012

17 Agustus - DI TOLAK


“Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yohanes 1:11).

Pada kedatangan Kristus yang pertama kali, dalam keadaan yang tidak dikenal, para malaikat surga nyaris tidak dapat menahan diri untuk mencurahkan kemuliaan mereka untuk merayakan kelahiran Anak Allah itu. Pertunjukan kemuliaan dari surga tidak seluruhnya tertahan. Peristiwa ajaib tidak terjadi tanpa pengesahan satu karakter Ilahi. Kelahiran itu, yang begitu sedikit disiapkan di bumi, dirayakan di istana surgawi dengan pujian dan syukur atas nama orang-orang berdosa....

Ia yang datang dalam wujud manusia dan hidup rendah hati adalah Yang Agung dari surga, Raja Kehidupan, namun orang-orang bijak di bumi, para raja dan penguasa, dan bahkan bangsa-Nya sendiri, tidak mengenal Dia. Mereka tidak mengenal Dia sebagai Mesias yang sudah lama dinanti-nantikan. Meskipun mukjizat-mukjizat agung dibuat-Nya, meskipun Ia mencelikkan mata orang buta dan membangkitkan orang mati, Kristus mengalami kebencian dan penganiayaan dari orang-orang yang menjadi tujuan berkat-Nya. Mereka memperlakukan Dia sebagai orang berdosa dan menuduh Dia mengusir roh jahat melalui kekuatan raja kegelapan. Mereka menuduh Dia lahir dalam dosa. Panglima surga dihina atas pikiran jahat dan penuh dosa, ketidakpercayaan dari bangsa-Nya. Ketidakpercayaan itu sungguh satu hal yang bebal! Itu berawal dari kemurtadan besar yang pertama, dan akan sungguh menakutkan bagi semua orang yang menyaksikan penolakan bangsa Yahudi terhadap Mesias mereka....

Para pemimpin Israel mengaku mengerti nubuatan, tetapi mereka salah mengerti tentang cara kedatangan Kristus....

Dia yang mati bagi orang-orang berdosa harus menghakimi mereka di akhir zaman; karena Bapa “telah menyerahkan semua penghakiman kepada Anak” dan “telah memberikan Dia wewenang untuk menjalankan penghakiman juga, karena Ia adalah Anak manusia.”

Sungguh satu hari yang menggemparkan kelak, ketika mereka yang menolak Kristus memandang Dia yang telah tertusuk oleh dosa-dosa mereka. Saat itu mereka akan mengetahui bahwa Ia akan memberikan surga kalau saja mereka berdiri di pihak-Nya sebagai anak-anak yang menurut; bahwa Ia telah membayar harga kekal untuk penebusan mereka; tetapi bahwa mereka tidak mau menerima kebebasan dari perbudakan dosa yang menyakitkan hati. Mereka memilih untuk berdiri di bawah bendera hitam pemberontakan pada waktu ditutupnya pintu kasihan. Review and Herald, 5 Sep. 1899.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar